Archive for April, 2008

Siklus 4-tahunan

Friday, April 18th, 2008

Hmmm….beberapa bulan terakhir banyak yang terjadi. Tapi secara umum bisa digambarkan dengan satu kata, kegelisahan. Yah beberapa hal yang terjadi disebabkan dan menyebabkan kegelisahan. Pikiran bertanya, mengapa begini? apa salahnya? kok gitu ya? Kegelisahan soal fokus diri, itulah masalahnya.

Beberapa bulan terakhir mencoba mencerna persoalan-persoalan. Dipikir-pikir, sepertinya hal ini terjadi dalam sebuah pola, sebuah siklus berulang. Mungkin benar, tapi toh tak butuh penjelasan ilmiah, yang penting berintrospeksi.

Pertanyaan, atau tepatnya pernyataan soal siklus kegelisahan muncul saat ngobrol dengan Pak Khrisnamurti di Bali Agustus tahun lalu. Tapi pertanyaan pernyataan itu tidak terjawab, atau tidak butuh dijawab.

Siklus empat tahun itu dimulai mundur dari sekarang, gelisah.

Empat tahun yang lalu, gelisah. Sempat ragu tuntaskan kuliah, menimbang-nimbang apa pentingnya (saat itu). Apalagi mami sakit, papi ga mau pulang ke rumah. Tapi akhirnya dengan ‘cambuk’ dari pacar, terpantik jugalah semangat buat menamatkan kuliah. Ga masalah, harus kemana2 dengan motor butut merah. Ga masalah, mesti minjem uang sodara buat foto copy skripsi. Ga masalah, bensin di mobil rental dah hampir "E" pas wisuda. Selesai kuliah. Tapi gelisah belum. Sering diremehkan orang, dianggap ga ‘menjual’, ga ‘mampu’. Gelisah mau kerja dimana, mau bertahan di kampung, atau hijrah ke Jakarta. Waktu itu kakak sempat mengultimatum. Kalo 3 bulan di Jkt ga dapat kerja, mesti pulang kembali, jangan ngerepotin orang. 1 bulan setengah, dapat kerja di TV nasional (Alhamdulillah). Yah akhirnya ikhtiar dan doa berbuah manis. Ga masalah, pergi pagi pulang tengah malam pake motor dipengangnya Jakarta.

Delapan tahun yang lalu, gelisah. Sulit mengandalkan gaji PNS bapak buat kuliah dan tugas2, buku2, copy diktat2. Kampus rasanya ga cukup buat menampung potensi. Lagi, dianggap remeh oleh orang lain. Akhirnya coba-coba (ga ngarep) lamar kerja sampingan. Eh syukur, diterima. Akhirnya memutuskan cuti kuliah, daripada ga fokus. Kerja profesional. Ga masalah pulang tengah malam, dari Indarung ke Teluk Bayur, kadang bis udah ga ada. Jadi terpaksa pulang estafet, pake ojek, nyambung angkot, nyambung angkot lagi, trus tambah jalan kaki.

Empat tahun yang lalu, gelisah. Kelas 3 SMA. Mau kemana? Mau jadi apa? Mampu ga kuliah? Kuliah apa? Tes UMPTN, hari ke 2, langsung cabut pake bis ke Bandung. Coba Seni ITB, coba Sandi Negara. Tapi gelisah, ga tau bakal seperti apa nanti. Lolos tes kedua SN, ternyata lulus UMPTN. Mami suruh pulang segera, ga usah lanjutin tes SN. (Oh iya, pengumuman UMPTN saat itu 27 Juli 1996-naik kereta dari Pasar Minggu mau ke mangga besar, eh disuruh turun di Manggarai. Ada kerusuhan PDI. Sendirian, bis, bajaj ga ada yang beroperasi. Waktu itu belum jamannya HP. Akhirnya diantar sama orang baik hati pake motor lewat jalan tikus, karena waktu itu dah mulai malam, jalan2 rawan. Akhirnya sampai juga ke rumah) Balik ke Padang, kuliah, dan inilah pilihan yang paling tepat. Bahkan tahun berikutnya ga mau ikut UMPTN lagi, walau dipaksa mami karena berharap anaknya jadi dokter. Tapi inilah pilihan, dan mesti fokus dijalani.

Mungkin benar, mungkin salah, kegelisahan membentuk pola empat tahunan. Tapi hidup memang mesti dijalani dengan fokus, makanya keputusan mesti diambil dengan tepat. Toh buktinya, kalo sudah fokus, jalan berikutnya pasti lebih mudah dihadapi. Ga masalah apakah banyak rintangan dan hambatan.

Hmmm…..kali ini, Dewi masih mencoba mencari fokus, menjawab kegelisahan2.